Posted: 31 Desember 2008 14:39:00 by M. Suyanto BeritaNet.com | Dilihat 3152 kali

Keberhasilan suatu organisasi atau perusahaan sangat ditentukan oleh pemimpinnya. Lingkaran pusat kepemimpinan adalah komunikasi. Komunikasi merupakan seni atau cara untuk menyampaikan sesuatu agar orang lain memahami kita. ”Komunikasi merupakan keterampilan paling penting dalam hidup. Kita menghabiskan sebagian besar jam bangun kita untuk berkomunikasi,” kata Stephen R. Covey. Dalam memecahkan masalah bawahan, kita cenderung untuk menyerbu masuk, untuk memperbaiki segala sesuatu dengan nasihat yang baik, tetapi seringkali kita mengalami kegagalan, terutama kegagalan dalam meluangkan waktu untuk mendiagnosis masalah, untuk benar-benar terlebih dahulu mengerti secara mendalam tentang masalahnya. Kita biasanya berusaha untuk lebih dahulu dimengerti. Kebanyakan orang tidak mendengar dengan maksud untuk mengerti, tetapi mereka mendengar untuk menjawab. Mereka bersiap untuk berbicara, menyaring segalanya melalui paradigma mereka sendiri, dan membacakan autobiografi mereka ke dalam kehidupan orang lain. Untuk berusaha mengerti lebih dahulu, kita membutuhkan perubahan paradigma yang tidak mudah.  

Kita sejak kecil telah diajarkan berbicara, menulis, dan membaca, namun kita tidak diajarkan bagaimana caranya mendengar yang baik. Mendengar ada beberapa tingkatan, mulai dari tidak berusaha mendengar, pura-pura mendengar, mendengar hanya bagian yang kita senangi saja, mendengar dengan penuh perhatian, dan mendengar aktif. Mendengar aktif merupakan titik pusat komunikasi. Mendengar aktif lebih efektif digunakan apabila lawan bicara mempunyai masalah, mulai dari masalah yang dialami anak-anak, remaja, orang tua sampai masalah di perusahaan. Tujuan mendengar aktif adalah membantu lawan bicara beralih dari masalah yang tampak ke masalah yang mendasar atau masalah yang sesungguhnya, mencegah Anda memberikan pemecahan masalah, membantu lawan bicara memecahkan masalah secara mandiri, dan merangsang hubungan yang lebih hangat. Mendengar aktif adalah mendengar dengan merespons perkataan, maksud, dan perasaan lawan bicara. Dengan merespons perkataan, maksud, dan perasaan lawan bicara, maka lawan bicara akan merasa senang  karena perasaannya dapat dilesap sedikit demi sedikit. Akibatnya, ia  bisa menjadi lebih ramah dan timbul rasa sayang lebih mendalam. Lawan bicara akan mulai mendengarkan Anda dan menjadi lebih bertanggung jawab. Selain itu, Anda tidak harus menjadi ‘orang super’.

Salah seorang staf saya sering sekali tidak masuk kantor. Biasanya, bagian personalia memanggil dan memintanya untuk masuk dan kadangkala diberi peringatan. Seringkali hal itu justru membuat karyawan tersebut lebih sering tidak masuk kerja. Pengalaman saya mengajarkan bahwa tidak demikian dalam menangani karyawan tersebut. Saya melakukan dengan mendengarkan secara aktif mengapa ia tidak masuk kerja. “Apa ada masalah, kenapa Anda sering tidak masuk kerja?” saya bertanya. ”Tidak Pak,” jawabnya singkat. “Apa mungkin saya dapat membantu Anda?” kata saya. ”Tidak Pak,” jawabnya singkat. “Tetapi kenapa?” tanya saya. “Begini, Pak. Pembantu saya, pada saat saya mau berangkat kerja, pacaran dengan anak SMA, sehingga saya menunggu sampai anak SMA tersebut berangkat atau kadang-kadang sering tidak masuk. Dengan pembantu pacaran tersebut, anak saya yang paling kecil tidak terpelihara, bahkan pernah anak saya masuk ke kolam, sehingga saya menjadi khawatir sekali, Pak,” jawabnya. “Apa yang dapat saya bantu agar permasalahan tersebut dapat selesai?” tanya saya. “Saya dapat menyelesaikannya sendiri,” jawabnya. Sejak saat itu, staf saya tersebut selalu masuk. Dari situlah kita dapat mengetahui permasalahan utamanya, mengapa ia sering tidak masuk. Dengan mendengar aktif, kita tidak perlu memecahkan masalahnya, tetapi ia dapat menyelesaikannya sendiri. Mendengar aktif merupakan titik pusat komunikasi, salah satu penentu dalam keberhasilan seorang pemimpin. Mendengar aktif merupakan rahasia sukses kepemimpinan.

 

Penulis : M. Suyanto , Ketua STMIK AMIKOM  


Komentar Anda

Artikel terkait