Posted: 10 Oktober 2018 13:41:24 by IY**** BeritaNet.com | Dilihat 2092 kali

Uber dan Grab dijatuhi denda sebesar SDG 13 juta atau sekitar Rp 141 miliar di Singapura. Denda tersebut dijatuhkan sebagai akibat merger mereka dari Maret lalu. Seperti diketahui, Uber menjual bisnisnya di Asia Tenggara kepada Grab. Sesuai dengan kesepakatan, Uber pun memiliki saham kepemilikan di Grab sebanyak 27,5 persen. Atas perleburan kedua startup ride hailing tersebut, Komisi Persaingan Usaha Singapura (CCCS) pun melakukan penyelidikan segera setelahnya.

Proses ini dinilai sebagai upaya menggerus kompetisi sektor transportasi online. Akibat kesepakatan tersebut, regulator menilai tariff efektif Grab naik hingga 10-15 persen. Grab bahkan kemudian menguasai 80 persen pasar ride hailing.

Merujuk pada hasil penyelidikan, akhirnya CCS mendenda Uber senilai SGD 6,6 juta dan Grab SGD 6,4 juta atau SDG 13 juta bagi keduanya. Selain soal denda, yang bersangkutan diminta untuk menghapus atiran eksklusif antara para pengemudi dan armada taksi.

Hal lain yang tak kalah penting, Uber diminta menjual bisnis penyewaan mobil Lion City Rentals di Singapura. Penjualan tersebut pun harus dilakukan kepada setiap pesaing potensial dengan penawaran yang wajar. Tak hanya itu, Uber juga dilarang menjual kendaraan kepada Grab tanpa persetujuan pemerintah.

Sementara itu, merujuk pada data terahir, Lion City Rentals memiliki 14 ribu kendaraan. Terkait akuisisi Uber oleh Grab, bukan hanya diawasi oleh Singapura, tetapi juga sejumlah negara lain di Asia Tenggara, seperti Filipina, Malaysia, Vietnam juga Indonesia.

Uber sendiri memang selama ini kerap menjadi sorotan. Terlepas dari akuisisi, platform asal San Fransisco ini acap kali menjadi pemberitaan karena larangan beroperasi yang kerap diberlakukan di tempat atau pasar yang hendak ditujunya.


Komentar Anda

Artikel terkait