Posted: 14 September 2018 15:18:41 by IY**** BeritaNet.com | Dilihat 40 kali

Setelah sempat diprotes, Facebook akhirnya melakukan tindakan lebih nyata memerangi propaganda yang disebarkan di layanannya terkait konflik etnis di Myanmar. Belakangan, perusahaan besutan Mark Zuckerberg itu mulai memblokir sejumlah akun populer di negara tersebut. Alasannya, akun-akun tersebut dinilai berperan memperburuk ketegangan antar etnis dan agama di negara itu.

Dalam laman blog miliknya, media sosial berlogo huruf “f” itu mengakui lambat bergerak menangani permasalahan konflik etnis di Myanmar. Seperti diketahui, konflik tersebut melibatkan enis Muslim Rohingya yang menjadi target pembersihan etnis atau genosida yang didorong oleh propaganda yang disebarluaskan jejaring sosial terbesar di dunia itu.

Sementara itu, laporan PBB menyebutkan para penyelidik menuduh militer Myanmar sudah merencanakan yang disebutnya sebagai ‘kejahatan terburuk dalam hukum internasional’. Adapun kejahatan itu meliputi pembunuhan massal, pemerkosaan massal dan perusakan banyak desa.

Nama Facebook terus dikaitkan dalam kasus tersebut. Facebook mengutip sebuah laporan PBB dalam artikelnya yang berjudul “Menghapus Militer Myanmar dari Facebook". Kekerasan terhadap etnis muslim itu dinilai snagat mengerikan. Oleh karena itu, mereka pun ingin ‘mencegah penyalahhgunaan Facebook di Myanmar’.

Menindaklanjuti hal tersebut, perusahaan yang juga menaungi WhatsApp itu pun memblokir 18 akun dan 54 Page dengan sedikitnya 12 juta pengikut. Sejumlah akun yang dibungkam tersebut antara lain, Commander in Chief dari pasukan bersenjata Myanmar, Senior General Min Aung Hlaing dan jaringan berita militer Myawady.

Kekhawatiran akan peran Facebook dalam mendorong terjadinya kekerasand di Myanmar sejak 2014 lalu sudah diungkapkan para ahli. Mereka menyebut pemilik Instagram ini digunakan menyebarkan kabar bohong, meme dan informasi yang salah tentang Rohingya. Parahnya, propagranda itu juga menyangkut rencana kekerasan massal.

Meski permasalahannya sudah lama, tetapi Facebook tak segera menangapi permasalahan tersebut dengan cepat. Butuh waktu setahun hingga akhirnya Facebok meningkatkan jumlah moderator yang mengerti bahasa Burma dari 2 orang menjadi 60 orang pada tahun ini. Tak seperti di banyak negara lainnya yang mencoba ‘hadir’, Facebook memilih belum mendirikan kantor di Myanmar sampai saat ini.


Komentar Anda

Artikel terkait