Posted: 13 Juni 2018 11:24:19 by IY**** BeritaNet.com | Dilihat 41 kali

ZTE kini bisa lega karena bisa berjualan kembali di pasar Amerika Serikat (AS). Sebelumnya, pabrikan Asia Timur ini terpaksa membaya denda senilai USD 1 miliar atas pelanggaran aturan embargo untuk Iran. Usai diizinkan kembali menggelar ‘lapaknya’ kembali, perusahaan asal China itu meminta maaf.

Permintaan maaf tersebut tertuang dalam memo yang dikirimkan Chairman ZTE Yin Yimin ke para stafnya yang disampaikan kepada para karyawan, klien, shareholder dan rekan bisnis ZTE. Melalui memo itu pula, ZTE berjanji akan belajar dari kesalahannya dan memastikan orang yang menyebabkan masalah ini akan bertanggung jawab. "Masalah ini merefleksikan isu yang ada di dalam budaya menuruti aturan di level manajemen," terang Yin.

Merujuk pada keterangan tersebut di atas, kesalahan ini bersumber dari sejumlah pemimpun dan pegawai ZTE. Sumber itu juga mengatakan jika membayar denda bukan masalah bagi ZTE, karena hal yang terpenting adalah bisa menjalankan bisnis di masa depan, khususnya di luar negeri. "Membayar denda bukan sebuah masalah, karena masalah utamanya berada di masa depan yaitu menjalankan bisnis masa depan, terutama di luar negeri. Kepercayaan pasar sudah hilang," ungkap sumber pada keterangan di ZTE tersebut.

Sementara itu, usai bisa beroperasi lagi di Negeri Paman Sam, ZTE juga tak lantas bisa berjalan mulus. Pasalnya, pabrikan ini butuh waktu berbulan-bulan sebelum akhirnya produknya bisa kembali mendarat di negara tersebut.

Permasalahan pun tak berhenti di sini. Pelarangan bagi ZTE untuk berjualan sebelumnya mencuarkan ketakutan bagi para karyawan akan kemungkinan PHK, pengurangan gaji. Lebih dari itu, ZTE juga masih harus berjuang keras agar pasar potensialnya kembali bisa percaya dan tidak kabur ke vendor rival.

Lebih dari itu, jika ingin kembali merebut pasar, ZTE pun harus bergerak cepat. Hal ini dilandasi pertimbangan semakin ketatnya persaingan di pasar smartphone. Apalagi Amerika Serikat merupakan pasar menarik yang menjadi incaran pasar bagi banyak pabrikan.

Secara internal, ZTE pun harus menyelesaikan PR (pekerjaan rumah), berupa reshuffle di tingkat manajemen senior. Wal hasil, meski sudah diizinkan berjualan, ZTE masih butuh waktu lama untuk bisa beroperasi normal bahkan pulih seperti sedia kala.


Komentar Anda

Artikel terkait