Posted: 16 April 2018 14:38:06 by IY**** BeritaNet.com | Dilihat 300 kali

Telegram dibungkam di negeri asalnya, Rusia. Keunggulan layanan tersebut yang mampu mengenkripsi pesan, sehingga sulit diretas menjadi sumber dari masalah ini. Bagaimana hal tersebut terjadi, simak ulasannya berikut.

Seperti diketahui, Telegram hadir sebagai layanan pesan instan yang mengunggulkan aspek keamanan. Pesan pengguna dienkripsi, sehingga sulit untuk dibobol. Namun, pihak berwenang dalam hal ini kepolisian Federal Rusia justru menjatuhkan hukuman ke Telegram dengan memblokir layananya. Alasannya, Telegram menolak memberikan kunci enkripsi ke kepolisian Federal Rusia.

Hakim setempat, Yuliya Smolina menyampaikan bahwa Telegram dianggap sebagai platform dan media penyebar informasi di Rusia. Mengingat hal itu, Telegram diminta mengikuti aturan setempat dengan memberikan akses ke pemerintah untuk melacak hal-hal berbau terorisme yang dibicarakan melalui platform tersebut. Pemerintah setempat tampaknya juga bukan tanpa alasan meminta Telegram memberikan akses tersebut. Pasalnya, justru karena keamanan yang diberikan, aplikasi ini kerap digunakan oleh para pelaku terorisme untuk bertukar pesan soal gerakan mereka.

Selain masyarakat umum dan pelaku terorisme, Telegram juga menjadi sarana berkomunikasi para pejabat pemerintah. Tak mengherankan jika kemudian pemerintah setempat meminta Telegram membuka akses kunci agar dengan alasan keamanan. Meski sudah dikecam, tetapi bos Telegram Pavel Durov tetap tak berubah pikiran. Ia tetak menegaskan bahwa privasi sebagai sebuah bagian dari hak azasi manusia yang tidak bisa diperjualbelikan. Ia pun bersikukuh mempertahankan keamanan Telegram dari berbagai pihak, termasuk pemerintah Rusia.

Kasus pemblokiran Telegram sebelumnya juga sudah pernah terdengar. Pemerintah Indonesia pada 2017 lalu sempat memblokir aplikasi berutan Durov itu. Alasannya tak berbeda jauh dengan Pemerintah Rusia. Melalui Kemenkominfo, Telegram dibungkam lantaran aplikasinya dijadikan media para teroris untuk berkomunikasi.

Sementara itu, Telegram dikenal sebagai aplikasi yang memang aman dari intipan pihak luar. Enkripsi end to end yang diterapkan membuat pihat luar tak bisa mengintip pesan, kecuali pengirim dan penerima pesan.

Aplikasi yang saat ini diklaim telah digunakan lebih dari 200 juta pengguna di seluruh dunia itu juga memiliki channel yang bersifat terbuka. Artinya, pengguna bisa mengikuti channel tersebut secara bebas. Hal ini yang membuat Telegram acap kali disalahgunakan oleh pelaku terorisme untuk menyebarkan propaganda.


Komentar Anda

Artikel terkait