Posted: 07 April 2018 13:58:39 by IY**** BeritaNet.com | Dilihat 20 kali

Peretasan masih menjadi ‘hantu’ yang menakutkan di jagad internet. Korbannya tak pandang bulu, mulai dari individu yang tak memililki pengaruh apa pun hingga negara bahkan aplikasi besar. Baru-baru ini, jagad maya kembali dihebohkan dengan kabar bobolnya data pengguna Facebook di dunia, termasuk di Indonesia.

Belakangan diketahui jika Cambridge Analytica berada di balik peretasan ini. Firma ini melakukan pencurian data dalam kainnya untuk kampanye pemenangan Donal Trump pada Pilihan Presiden Amerika 2016 lalu.

Menindaklanjuti hal tersebut, pihak Facebook pun telah meminta maaf. Media sosial garapan Mark Zuckerberg itu pun mengatakan akan melakukan sedikitnya 6 langkah antisipatif untuk mencegah kebocoran data serupa di kemudian hari. Langkah itu mulai dari pengetatan login user, penonaktifan aplikasi pengguna yang tak digunakan selama 3 bulan hingga ‘sayembara’ untuk menemukan celah keamanan. Khusus jurus yang terakhir itu, Facebook bahkan siap mengganjar penemu celah keamanan aplikasinya dengan penghargaan—kemungkinan uang atau lainnya.

Terlepas dari cara yang ditempuh jejaring sosial berlogo huruf “f” ini, kejadian peretasan yang dialaminya menunjukkan bahwa aplikasi besar bukan jaminan akan terbebas dari peretasan. Fitur keamanan yang selalu diupayakan mumpuni oleh perusahaan teknologi, ternyata juga masih menyisakan celah bagi peretas untuk menyelinap dan menggondola data penggunanya.

Facebook bukan satu-satunya perusahaan besar yang harus menerima kenyataan ‘pernah kebobolan data’. Beberapa tahun lalu, kasus peretasan terhadap Sony Pictures tak kalah menghebohkan. Meski motif di balik peretasannya berbeda. Namun, tampaknya urusan politik menjadi biang keladi persoalan itu.

Merujuk pada permasalahan tersebut, Facebook di Indonesia sepertinya juga harus memperketat keamanannya. Jangan sampai panasnya suhu politik membawa dampak kebocoran serupa. Pengetatan keamanan ini dirasa penting mengingat Indonesia akan segera memasuki tahun politik, yaitu Pilpres 2019. Jangan sampai media sosial, Facebook menjadi jurus gelap untuk pemenangan kandindat tertentu. Sebaliknya, media sosial harus dimanfaatkan sebagai media untuk menyebarkan kabar dan hal positif.


Komentar Anda

Artikel terkait