Posted: 06 Januari 2018 09:43:30 by IY**** BeritaNet.com | Dilihat 121 kali

Di samping mendapat hoki dari vendor China, keberhasilan Qualcomm juga disokong oleh kemampuannya menyuguhkan prosesor yang mengikuti perkembangan dan tren teknologi. "Fokus dari prosesor smartphone telah beralih dari jumlah inti prosesor yang dibenamkan di dalamnya melainkan lebih berfokus ke teknologi yang membuat smartphone tersebut bisa mengadopsi teknologi terbaru yang sedang tren atau akan segera dirilis," terang  Counterpoint Research Director Neil Shah.

Ia mencotohkan, teknologi untuk membuat smartphone merasakan teknologi AR (augmented reality) dan VR (virtual reality), mendukung AI atau kecerdasan buatan, berjalan di jaringan 5G saat 5G sudah bisa digunakan. Di samping itu, ada juga teknologi yang mendukung kinerja perangkat yang lebih bertenaga, tetapi tak rakus daya. Meski demikian, keadiran teknologi AI untuk ponsel cerdas juga memberi peluang kompetisi antara produsen prosesor dengan vendor smartphone.

Pasalnya, tak sedikit vendor yang memilih meracik sendiri prosesor untuk smartphone mereka. Sebut saja seperti Apple, Huawei, juga Samsung. Beruntung, dominasi mereka di pasar tidak seberapa dibandingkan Qualcomm yang masih mampu memimpin.

Sebagai perbandingan, Apple pada kuartal ke-3 2017 mendapatkan pangsa pasar 20 persen. Capaian ini merosot 1 persen dibandingkan kuartal yang sama tahun sebelumnya. Hebatnya, penurunan market share pabrikan berlogo apel groak itu mampu mengalahkan MediaTek.

Perusahaan chip ini terpaksa mengakui kehebatan pabrikan Cupertino itu dengan bertengger di belakangnya. Pangsa pasarnya pun hanya 14 persen. Angka ini turun dari 18 persen pada kuartal yang sama 2016 silam.

Menariknya, Samsung dan HiSilicon milik Huawei justru semakin melejit pada Q3 2017. Samsung sukses menguasai 11 persen market share. Angka ini meningkat dari 8 persen pada kuartal yang sama di tahun sebelumnya. Sementara HiSilicon Huawei merangkak dari 6 persen ke 8 persen dalam periode tersebut.


Komentar Anda

Artikel terkait