Posted: 23 Desember 2017 12:14:09 by IY**** BeritaNet.com | Dilihat 118 kali

Di balik disembunyikannya peretasan tersebut teranyata ada alasan yang membuat cukup pelik. Bloomberg melaporkan saat peristiwa peretasan terjadi, Uber tengah berbicara dengan regulator Amerika Serikat (AS) tentang masalaha pelanggaran privasi lain. Perusahaan berbasis di San Fransisco itu juga.

Bloomberg menyebutkan, pada saat penyerangan, Uber tengah berbicara dengan regulator Amerika Serikat terkait masalah pelanggaran privasi lain dan baru saja selesai membahas masalah cara penanganan data konsumen pada Komisi Dagang Federal (FTC) kala itu. Apabila peretasan itu dibuka, maka kondisinya akan menjadi masalah baru.

Dalam waktu sesaat dibungkamnya peretasan itu memang membuat Uber ‘aman’. Namun, hal ini justru semakin mencuatkan tanda tanya di masa depan. Terbongkarnya kasus ini setelah mengendap setahun justru menimbulkan opini publik tentang ‘ketidakamanan’ aplikasi itu.

Apabila benar publik sampai beranggapan demikian, maka akan berdampak pada guncangnya pangsa pasar Uber sendiri. Nah, di sinilah peran CEO yang baru dibutuhkan dan dipertaruhkan. Ia harus bisa membuktikan kepada dunia bahwa di bawah komandonya Uber berubah lebih baik dan memberikan jaminan bahwa ‘dosa masa lalu’—peretasan yang sempat disembunyikan itu tak akan membuat masalah baik bagi Uber maupun bagi korban.


Komentar Anda

Artikel terkait