Posted: 20 Mei 2017 12:10:49 by IY**** BeritaNet.com | Dilihat 227 kali

Ia pun mencontohkan terjadinya kasus ini. "Ada kasus kebocoran data sebuah perusahaan aircraft, perusahaan yang sangat besar. Bagaimana itu bisa terjadi pada perusahaan besar? Setelah kami lacak, data tersebut bocor di Taiwan dari sebuah perusahaan kecil yang merupakan partner mereka yang mengerjakan salah satu perangkat pesawat," ceritanya.

Ia menyebut kebocoran data tidak akan pernah ada akhirnya. Mengigat hal itu, perusahaan-perusahaan harus waspada. "Ibarat penyakit, kami ini hanya seperti dokter. Semua perangkat punya kelemahan, kami hanya open servers, cari kelemahan tersebut dan membersihkannya. Tetapi para peretas mempunyai kunci, maka harus selalu waspada," katanya.

Erwan juga menjelaskan pihaknya memasang tarif minimal 150.000 euro per perusahaan untuk membersihkan kebocoran-kebocoran itu. Selain perusahaan keamanan, Erwan menyebut diperlukan peran serta pemerintah dalam mengurangi praktik kebocoran data melalui kebijakan mereka. Contoh ini bisa dilihat di Eropa yang mengimplementasikan kebijakan yang disebut GDPR. Kebijakan ini mengatur soal pemberian pinalti kepada perusahaan yang berusaha meretas data dari perusahaan lain dengan denda 4 persen turnover dari seluruh grup perusahaan tersebut di seluruh dunia.


Komentar Anda

Artikel terkait