Posted: 13 April 2017 13:46:43 by yan BeritaNet.com | Dilihat 1632 kali

Maha karya novelis ternama Indonesia, Alberthiene Endah, akan segera terbit di tahun 2017 ini. Novel ini berjudul "Cahaya di Penjuru Hati". Ini adalah sebuah karya tulis yang didasarkan pada kisah nyata dari sesesorang yang berjuang membangun keluarganya dari titik nol hingga kesuksesannya. Hingga akhirnya, ia harus mengalami pengalaman pahit. Apakah ia mampu bertahan dan melalui akhir cerita dengan happy ending?

Berikut adalah sepenggal cuplikan dari isi novel tersebut.

Gondo berada di lorong hening. Ia tak melihat ujung, tak juga melihat kebuntuan. Yang ia lihat hanyalah dinding yang menghimpit. Mengepungnya dan memberi pesan yang sangat jelas: geraknya terbatas. Ia memang masih bisa berjalan. Menapaki harapan. Melangkah lurus menyusuri lorong yang tak pernah ia tahu ujungnya. Akan tetapi ia tak bisa mengambil arah yang berbeda. Tak bisa berkelit. Tak bisa memutar. Berjalan saja ke depan, bersekutu dengan harapan. Satu-satunya yang ia yakini masih ada, kepercayaan bahwa Tuhan sedang mendengarnya.

Itu yang ia rasakan ketika menatap perempuan yang paling dicintainya, Lili. Istrinya bukan lagi berupa perempuan dengan senyum penuh dan mata yang berkerjab indah. Lili tertidur. Atau lebih tepatnya tak sadarkan diri. Selang-selang medis menancap di tubuhnya. Peralatan kedokteran menghasilkan satu-satunya bunyi di ruang ICU. Selebihnya hanya bunyi napas perempuan itu. Amoniak telah meracuni tubuhnya dan mencabiknya dengan kekuatan yang tak terlihat. Seluruh organ tubuh dibuat tak berdaya. Kekuatan otak dilumat. Begitu dahsyatnya siksaan itu hingga perempuan indah yang begitu hidup itu kemudian lunglai. Tak menyentuh lagi dunia. Tidak tatapannya. Tidak kesadarannya. Ia telah sangat berjarak dengan dunia. Dokter mengatakan, istrinya koma.

Gondo kini mematung. Ia dihadapkan pada kenyataan, waktunya bukan lagi sesuatu yang powerful. Waktu yang ia miliki untuk merentangkan harapan begitu lemah. Bahkan ia tak bisa banyak berbuat di tengah waktu yang sempit itu. Ia hanya bisa berharap. Dokter mengatakan sesuatu yang sangat pahit. Kemungkinan hidup istrinya tinggal beberapa persen saja. Amoniak dengan keji terus meluluhlantakkan semua oragn karena fungsi hati yang telah lumpuh. Di dalam waktu yang sempit itu satu-satunya senjata yang bisa ia kerahkan hanyalah…harapan.

 

*) Novel ini sudah dibuka pre-ordernya di andipublisher.com


Komentar Anda

Artikel terkait