Posted: 07 Maret 2015 13:32:28 by IY**** BeritaNet.com | Dilihat 1022 kali

Meski dua hal yang berbeda tetapi politik dan teknologi memiliki kaitan yang erat. Indikasi ini terlihat dari kebijakan pemerintah suatu negara atau daerah untuk menanggapi masuk atau lahirnya suatu teknologi tertentu di wilayah administrasinya. Tiongkok barangkali menjadi negara yang paling mudah untuk merepresentasikan bagaimana hubungan antara dua sektor berbeda itu saling berkaitan erat.

Ya, Negeri Tirai Bambu itu, selama ini memang dikenal memiliki aturaan yang ketat terhadap teknologi, baik penggunaannya maupun masuknya teknologi asing. Masalah keamanan negara sejauh ini masih menjadi alasan utama mengapa pemerintah mengetatkan aturan soal vendor atau teknologi asing yang akan masuk.

Sudah bukan  rahasia pula jika negara dengan penduduk terbesar di dunia itu merupakan tempat bernaung bagi banyak vendor besar. Sebut saja Lenovo, Huawei atau pendatang baru yang tengah moncer, Xiaomi. Namun, masyarakatnya tidak dengan mudah menikmati hasil inovasi teknologi dari negara lain. Demikian pula penggunaan perangkat dari brand berbau Barat diatur begitu ketat.

Sebut saja Facebook yang hingga kini masih begitu sulit diakses di negara tersebut. Ketika masyarakat di senatero dunia beramai-ramai menggunakan media sosial besutan Mark Zuckerberg itu, warga China belum menikmati layanan tersebut. Sejak dilarang pada 2009 silam, Pemerintah Tiongkok masih belum merestui media sosial berlog huruf “f” itu masuk hingga 2014 lalu.

Facebook tidak sendirian merasakan kerasnya menembus “tembok besar China”. Sederet perusahaan teknologi dunia lainnya pernah dibuat kelabaan menaklukan pasar Tiongkok. Sepanjang 2014 saja sudah tercatat banyak nama perusahaan teknologi dunia yang kena imbas regulasi Tiongkok.

Mei 2014, Microsoft dibuat terkejut lantaran pemerintah Tiongkok tak merestui penggunaan Windows 8 karena alasan penghematan energi dan keamanan. Selanjutnya pada Juli, pemerintah kembali mengetatkan penggunaan media sosial karena alasan keamanan. “Korbannya” kala itu adalah Line (dari Jepang) dan KakaoTalk (dari Korea Selatan), juga WhastApp (Amerika Serikat). Dengan alasan yang sama, selang sebulan kemudian, Tiongkok juga memperketat penggunaan Weibo dan WeChat.

Tidak ada jaminan sampai kapan negara berhaluan komunis itu akan “lebih ramah” ke banyak vendor atau produsen tekologi asing, terutama “Barat”.


Komentar Anda

Artikel terkait