Posted: 23 September 2014 09:52:52 by IY**** BeritaNet.com | Dilihat 675 kali

Penjualan iPhone 6 untuk gelombang pertama sudah dibuka. Australia menjadi negara pertama yang dipilih Apple untuk menjual perangkat barunya itu. Antrean panjang mewarnai "perburuan" terhadap iPhone 6.

Di tengah suasana tersebut, seorang gadis berusia 24 tahun dikabarkan diusir pihak kepolisian dari barisan antrean. Padahal ia belum mendapatkan smartphone baru yang diidamkannya tersebut. Wanita yang diketahui asal Tiongkok itu pun menangis saat dipaksa keluar dari antrean iPhone 6 di Apple Store di Sydney, Australia.

Gadis berambut panjang itu diminta meninggalkan antrean pada pukul 10 pagi waktu setempat. Langkah tersebut dilakukan pihak kepolisian lantaran perempuan bernama Anna itu diminta untuk tetap berada di barisan antrean. Atas kejadian ini, perempuan yang masih berstatus sebagai mahasiswa itu pun punya jawabannya sendiri.

Ia mengaku jika telah mengantre selama lebih dari 24 jam. Namun, orang yang berada di depannya semakin bertambah, dari 80 menjadi 180 "hanya" dalam waktu semalam. Mereka yang datang belakangan langsung bergabung dengan teman-temannya dan tidak mengantri.

Menyaksikan hal tersebut, Anna pun mulai khawatir jika tidak berada di barisa depan untuk membeli duo iPhone 6. Padahal ia harus segera belajar untuk menghadapi ujian.

Orang-orang pun mulai menawarkan iPhone 6 yang telah diperolehnya, tetapi dengan harga selangit. Tidak tanggung-tanggung, menurut Anna, mereka menawarkan dengan harga dua kali lipat dibandingkan harga aslinya. Ia pun berinisiatif keluar dari barisan antrean untuk mencaari orang yang bersedia menawarkan iPhone 6 dengan harga yang wajar.

Naas, polisi justru menangkapnya melihat ada kekacauan di barisan antrean. Sebelum akhirnya diusir, Anna sempat diperingatkan dua atau tiga kali. Atas insiden yang dialaminya itu Anna mengatakan jika langkah yang dilakukan polisi sudah tepat. Hanya saja, ia kecewa dengan Apple lantaran tak berupaya untuk mencegah orang-orang yang menyerobot antrean. Demikian dikutip dari  The Sydney Morning Herald (19/9/2014).


Komentar Anda

Artikel terkait