Posted: 04 September 2014 14:23:08 by IY**** BeritaNet.com | Dilihat 202813 kali

Perseteruan antara Rusia dan AS sebagai imbas Perang Dingin beberapa dekade silam bukan saja "perang ideologi", melainkan juga kompetisi teknologi. Salah satunya adalah misi ke luar angkasa. Sebagai bagian dari "kompetisi" tersebut Rusia pun sukses mengantarkan Neil Amstrong menginjakkan kakinya di bulan.

Rupanya kejayaan masa lalu itu ingin dihidupkan kembali oleh Roscosmos, Badan Antariksa Rusia. The Moscow Times (22/8/2014) menyebut, Rusia kini tengah menyiapkan proposal misi ke Bulan. Anggaran untuk misi tersebut diketahui sebesar 230 miliar rubel atau setara dengan US$ 6,3 miliar.

Rencananya, dana tersebut akan digunakan untuk membiayai empat proses dalam misi tersebut mulai dari perencanaan hingga pelucuran yang akan dilakukan pasca 2025. Pada tahap pertama akan dikucurkan dana 152 miliar rubel atau setara dengan US$ 4,2 miliar untuk pembangunan fasilitas peluncuran roket baru di Kosmodrom Vostochny, wilayah Timur Rusia. Dalam peluncuran tersebut,  sebuah pesawat luar angkasa lengkap dengan roketnya yang berbobot 80 ton akan didorong roket menuju ke Orbit Bumi bawah pada fase pertama. Sementara pada fase kedua, roket akan meluncurkan pesawat berbobot 20 ton ke orbit Bulan.

Kedua, dana 60 miliar rubel, setara dengan US$ 1,6 miliar akan dipakai untuk pengembangan dan uji komponen roket. Ketiga, dana 14 miliar rubel atau setara dengan US$ 3,8 akan digunakan untuk perbaikan industri manufaktur ruang angkasa yang mati sejak runtuhnya Uni Sovyet.

Sementara itu, untuk yang keempat, Rusia akan menggelontorkan dana 2 miliar rubel atau setara dengan US$ 55 untuk membangun pangkalan. Diharapkan pangkalan tersebut dapat digunakan hidup manusia. Rusia berkeinginan bukan saja mendaratkan manusia di satelit bumi itu, tetapi juga berdiam di sana.


Komentar Anda

Artikel terkait