Posted: 17 Juni 2014 06:53:37 by IY**** BeritaNet.com | Dilihat 1506 kali

Ada yang berbeda dengan hawa perpolitikan di Indonesia jelang pilpres kali ini. Di era yang serba digital ini, media cetak dan elektronik, seperti radio dan televisi bukan lagi pegangan utama untuk berkampanye baik oleh capres dan cawapres terkait maupun para pendukungnya. Media jejaring sosial ditengarai membuat pesta demokrasi yang akan digelar 9 Juli mendatang itu lebih semarak.

Berbeda dengan media televisi, selebaran, maupun baliho yang isinya lebih berupa ajakan, melalui jejaring sosial masyarakat dapat lebih ekspresif menunjukan uneg-unegnya dan pihak yang berkampanye pun langsung bisa menanggapinya. Sisi positif lain kampanye memlalui sosial media adalah kebebasan setiap lapisan masyarakat bersuara tanpa melihat latar belakang profesi, suku, agama dan lain sebagainya. Komunikasi dua arah antara pihak yang berkampanye maupun rakyat yang akan memilihnya perlu ditangkap sebagai sebuah peningkatan partisipasi masyarakat terhadap politik.

Meski demikian, efek negatif yang muncul melalui sosial media juga tidak dapat dihindari. Kebebasan setiap orang untuk berbicara menjadikan kampanye dengan media jejaring sosial lebih vulgar. Artinya bahwa kampanye dengan cara ini membuat masyarakat lebih bebas berbicara.  Mereka bukan hanya menunjukan dukungannya terhadap capres tertentu, melainkan juga menjatuhkan  capres lainnya yag dianggap rival capres dukungannya. Hujatan, fitnah, terbongkarnya aib pun acap kali diracik untuk membumbui upaya menjatuhkan lawan politik tertentu. Ketiadaan regulasi yang jelas mengenai etika kampanye melalui sosial media barangkali menjadi alasan mengapa kampanye ini terkesan lebih "terbuka".

Terlepas dari penggunaan berbagai media, baik cetak maupun elektronik termasuk sosial media sekalipun, mayarakat Indonesia diharapkan tetap dapat memilih dan memilah capres dan cawapres pilihannya yang terbaik. Media boleh memberitakan berbagai macam hal, tetapi bukankah setiap orang memiliki hak asasinya untuk memilih dengan bijak sesuai hati nuraninya?


Komentar Anda

Artikel terkait